Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi – Manuel Pellegrini, manajer yang dijuluki sebagai the engineer, telah dikenal dengan pendekatannya yang hati-hati, metodis, serta akurat selama dia menangani Manchester City dan tim lainnya. Citra yang dia tampilkan tersebut memang berasal dari latar belakangnya sebagai seorang lulusan teknik sipil, dia juga mampu tampil tenang selama enam bulan pertamanya menjabat sebagai manajer Manchester City, dia bisa menjadi antitesis dari manajer lama City, Roberto Mancini – yang lebih sering menciptakan situasi kontroversi dan penuh emosi, kontrak sekali dengan dirinya. Mancini lebih sering mengisi headline tabloid dengan komentar-komentar penuh emosinya. Menanggapi kekalahan Manchester City dengan skor 2-0 melawan Barcelona, ternyata di konferesi pers pasca pertandingan Pellegrini seolah menjadikan dirinya sebagai Roberto Mancini.

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi – Dia juga sempat menjadi seorang pelaku yang menirukan mimik Sir Alex Ferguson dan Jose Mourinho dibeberapa kesempatan. Saat dia muncul dalam konferensi pers menyusul kekalahan yang bisa mengakhiri mimpi City di Liga Champions, kekalahan yang bisa membuat harapan mereka musnah, Pellegrini membuat dirinya menjadi seorang komandan di headline koran Inggris sehari kemudian dengan penampilan serta komentar yang menurut saya sangat mengejutkan. Pengawas pertandingan keempat menjadi subjek serangan yang konstan pada komentarnya di pertandingan tersebut. Saat ditanyai dengan pertanyaan sopan di pembuk acara, Pellegrini meresponnya dengan mengatakan bahwa sang wasit, Jonas Eriksson, dengan performanya selama pertandingan tersebut, mampu untuk mengubah jalannya pertandingan.

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi – Dia juga dikomentari sebagai orang yang mengontrol kekalahan City dan dia juga tampil dengan tidak layak – sebuah serangan yang sangat keras pada ofisial pertandingan. Komentar tersebut menunjukkan bahwa Pellegrini sangat kecewa, dan ketidak senangannya tak hanya berpusat pada fakta – yang dipercayainya – diantaranya adalah Jesus Navas yang dianggapnya dilanggar saat Barcelona melakukan serangan balik hingga menghasilkan penalti bagi el Barca serta kartu merah pada Martin Demichelis, pelanggaran tersebut sebenarnya merupakan pelanggaran keras. Mungkin Pellegrini merasa timnya mampu mengimbangi Barcelona dan menutup semua serangan yang dilakukan oleh tim lawan. Mungkin dia hanya terkejut karena timnya sedang kebobolan oleh gol dimenit akhir dari tendangan Daniel Alves, yang menggandakan keunggulan tuan rumah.

Kemarahan Pellegrini Menunjukkan Rasa Frustasi – Pellegrini mungkin boleh memiliki beberapa versi pertandingan menurutnya sendiri. Dia bisa saja tak terima dengan tindakan wasit karena tak mengambil keputusan apa-apa terkait dengan pelanggaran yang juga dilakukan oleh para pemain Barcelona di 45 menit awal. Namun semua itu tak boleh menjadi pembelaan atas komentar Pellegrini yang mengatakan bahwa Swedia adalah negara tak penting di dalam sepakbola Eropa. Manchester City telah kalah dan tak bisa mencetak gol atas Barcelona, itulah faktanya, lantas kenapa harus membawa nama Swedia sebagai sebuah negara dengan merendahkannya dalam konferensi pers? Mungkin rasa frustasi dalam pertandingan tersebut mengambil alih logika Pellegrini dalam berkomentar.