Pasar Taruhan Asia Calcio Great Squad Napoli & Maradona

Calcio Great Squad Napoli & Maradona

Calcio Great Squad Napoli & Maradona

Pasar Taruhan Asia – Vicoli dan piazza yang diwarnai biru dan putih disuguhkan dalam pesta-pesta besar di mana warga memasak untuk orang-orang lain di meja-meja besar di jalan, tidak ada batas lagi saat seluruh anggota komunitas semua bergabung dalam selebrasi akbar ini.

Jarang sekali, bahkan mungkin belum pernah, sebuah gelar juara liga dirayakan begitu besarnya dalam sebuah kota. Festival dadakan di kota Naples pun mencapai puncaknya dan mungkin dirangkum dengan baik dalam sebuah tanda terkenal yang digantungkan di atas pemakaman kota bertuliskan ”guaglio! E che ve sit pers!” yang berarti ”kamu tidak tahu apa kamu lewatkan”. Ini merupakan humor gelap yang merupakan kebiasaan penduduk Neopolita dan lebih jauh lagi ditunjukkan dengan ”pemakaman Juventus” di mana ditunjukkan peti mati berwarna hitam putih dan pengumuman soal kematian Juve. Atalanta kemudian dikalahkan dengan empat gol pada final Coppa Italia, Napoli pun mendapatkan gelar ganda yang layak mereka dapatkan musim itu.

Karikatur yang menunjukkan gambar raksasa Diego diparadekan sekeliling kota dengan gambar Michel Platini dan Karl heinz Rummenigge bersujud di bawah kakinya dan diperkirakan sekitar 20,000 orang menuliskan ”Viva Maradona” di kertas suara mereka saat pemilu lokal. Kota Naples semuanya berubah menjadi Maradona-mania. Sayangnya bagi warga Naples pesta itu tidak diulang di musim berikutnya karena klub gagal mempertahankan mahkota mereka, menjadi runenr up setelah hanya mendapatkan satu poin dari empat laga akhir mereka (masih menjadi misteri kenapa hingga saat ini) membuat Milan meraih gelar mereka dan gagal di fase awal Piala Eropa. Namun, tahun berikutnya klub itu kembali menjadi lebih kuat meskipun Maradona  dirumorkan akan hengkang. Maradona tidak jadi pergi dan klub itu pun menambahkan trofi Eropa di lemari trofi mereka.

Klub Italia lain Juventus disingkirkan dalam jalan mereka menuju final seperti halnya raksasa Jerman Bayern Munich dan klub Yunani PAOK. Napoli pun bertemu VFB Stuttgart di final dalam dua leg. Penalti Maradona dan gol di akhir pertandingan dari creca sudah cukup untuk memberikan Partenopei keunggulan di leg kedua di Jerman. Pertandingan berjalan seru dengan berakhir 3-3 dengan gol-gol Napoli dari pemain tengah asal Brazil Alemao, Ciro Ferrara, dan Careca, mempersembahkan trofi Piala UEFA bagi warga Napoli yang kembali merayakannya dengan besar-besaran. Saat itu, klub Napoli ini memang benar-benar tidak tertandingi dan beberapa pemainan mereka di kedua leg di final benar-benar menakjubkan dan layak memperoleh trofi.

Musim berikutnya Azzurri kembali ke awal kisah, dengan di bawah Bigon sebagai manajer, klub itu kembali fokus penuh untuk kembali merebut mahkota Scudetto mereka dan mereka berhasil dengan gol-gol dari trio penyerang membawa klub San Paolo itu meraih gelar Serie A kedua mereka dalam sejarah. Kemenangan itu sendiri sempat diwarnai kontroversi karena pada laga di Bergamo melawan Atalanta, Napoli dihadiahi dua poin untuk kemenangan saat Alemao dilempar sebuah koin dari arah bangku penonton. Napoli akhirnya meraih Scudetto dengan keunggulan dua poin dari penantang terdekat AC Milan. AC Milan ini akhirnya menjadi kekuatan hebat di calcio kemudian hari, naik ke puncak liga, menenggelamkan Napoli dan Maradona.

Nasib Napoli berbalik pada Mare 1991 saat Maradona dinyatakan gagal dalam tes obat dan Gianfranco Zola mengambil alih posisi sebagai tokoh utama klub. Larangan bermain lima belas bulan menjadi hukuman bagi Diego, dan dia tidak pernah mengenakan seragam Napoli lagi dan bergabung dengan Sevilla. Setelahnya Napoli naik turun saja dari zona degradasi ke papan tengah selama akhir dekade sampai akhirnya terkena degradasi pada tahun 1998. Dan di masa kini, dengan kembalinya Napoli ke papan atas, San Paolo dan Naples punya harapan baru untuk bisa melakukan selebrasi besar-besaran lagi. Pasar Taruhan Asia