Sbobet News Marseille Klub Terbaik Prancis?

Sbobet News Marseille Klub Terbaik Prancis

Sbobet News Marseille Klub Terbaik Prancis?

Jika ada sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk mendiskusikan alasan tentang klub Prancis yang terbaik, maka jawabannya adalah bisa jadi semua sepakat bahwa tim Marseille pada tahun 1993 yang menjadi juara Liga Champions Eropa adalah yang terbaik. Mereka mendapatkan gelar back to back Ligue 1 Prancis dan mengalahkan dream team AC Milan yang dilatih oleh Fabio Capello untuk meraih Juara Liga Champions Eropa di Final, Milan padahal adalah tim yang digadang-gadang dihuni para pemain terbaik dan merupakan tim impian yang ingin dilihat oleh semua orang. Tapi, apa kenyataan yang terjadi kemudian? Milan kalah oleh tim antah berantah dari Prancis. Tim Milan tersebut adalah tim yang diwariskan oleh Arrigo Sacchi.

Sacchi disebut telah membentuk sebuah tim Milan yang paling hebat yang pernah ada. Lihat saja di Rossoneri ketika itu dihuni pemain macam Maldini, Rijkaard dan Marco van Basten. Milan pada final tahun 1993 tersebut menjadi tim yang difavoritkan untuk menjadi jawara di final yang digelar di kandang Bayern Munchen yang lama, Olimpiastadion Munchen. Namun, ternyata Milan takluk di hadapan pasukan Raymond Goethals yang menukangi Olympique Marseille. Marseille ketika itu dihuni oleh Fabien Barthez sebagai penjaga gawang dan Desailly di barisan komando pertahanan, lalu ada Jenderal Lapangan tengah Didier Deschamps dan pada akhirnya bermuara di depan trisula mematikan Bintang Yugoslavia Alen “Badai” Boksic, striker trengginas Jerman; Rudi Voller dan Maradona dari Afrika; Abedi Pele.

Marseille bermain dengan gaya bermain menyerang yang cukup berani. Mungkin Marseille bisa bisa dianggap dream team juga. Namun, kemudian, ada sebuah tragedi terjadi. Marseille ketahuan melakukan suap dan pembelian kemenangan dalam sebuah pertandingan. Kejadiannya kemudian terungkap adalah lima hari sebelum kemenangan bersejarah mereka di Liga Champions. Marseille sebelumnya sudah dicurigai sepertinya membeli pertandingan untuk menang atas Valenciennes. Detektif Prancis kemudian melakukn sejumlah penyeledikan dan investigasi atas kemenangan Marseille 1-0 Valenciennes tersebut. Akhirnya, ditemukan sebuah amplop yang pada saat itu bernilai 250.000 francs Prancis pada saat ini nilainya setara dengan 30.000 Euro. Amplop tersebut ditemukan di rumah bibi seorang pemain Valenciennes, Christophe Robert. Hal ini kemudian menandakan bahwa Marseille membeli pertandingan.

Akhirnya setelah diusut lebih jauh pelakunya adalah presiden klub Marseille, Bernard Tapie dan Manajer Umum Marseille, Jean Pierre Bernes dan pemain tengah Eydelia telah terbukti menyuap Robert dan dua orang rekan setimnya yakni Glassmann dan Burrchaga untuk tidak terlalu ngotot dalam pertandingan sehingga Marseille tetap bisa juara Liga Prancis serta juga mengistirahatkan para pemain utamanya untuk menghadapi final Liga Champions melawan Milan. Pada persidangan Tapie mengakui bahwa hal tersebut memang dia lakukan, tapi, dia melakukan hal tersebut untuk kebaikan bangsa Prancis.